Pengertian Aqiqah dan Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Pengertian Aqiqah dan Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

jual domba aqiqah – Akikah atau Aqiqah merupakan  pengorbanan hewan yang ada di dalam syariat Islam, sebagai bentuk penggadaian (penebus) seorang bayi yang telah lahir. Hukum Aqiqah menurut beberapa pendapat yang paling kuat yaitu sunah muakkadah, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama menurut hadits. Atas dasar anjuran Rasulullah Saw serta praktiknya langsung, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang bayi tergadai dengan aqiqah-nya, maka alirkan darah (sembelihan aqiqah) untuk-nya dan singkirkan kotoran (cukur-lah rambutnya) dari-nya”.

Aqiqah menjadi salah satu yang disyariatkan pada agama Islam. Beberapa dalil yang menyatakan hal tersebut, yang salah satunya merupakan hadits Rasulullah saw, yaitu “Setiap anak tertuntut dengan akikahnya’. Hadits lain, “Untuk seorang bayi laki-laki dua kambing yang sama dan untuk seorang bayi perempuan satu kambing”. Status hukum Aqiqah yaitu sunnah muakkadah. Pandangan tersebut sesuai mayoritas ulama, seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Malik, dengan berdasarkan dalil di atas.

Dalam perkembangan zaman, semuanya menjadi serba mudah dan praktis begitu juga halnya dengan aqiqah. Sekarang ini sudah banyak jasa aqiqah di berbagai daerah seperti Aqiqah Sumedang, bandung maupun daerah cileunyi.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Jika orang tuanya dahulu dalam kondisi yang tidak mampu ketika dianjurkannya aqiqah (yaitu saat hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran), Dalam kondisi tersebut orang tua tidak memiliki kewajiban apa-apa meskipun mungkin sesudah itu kemudian orang tuanya akan menjadi kaya. Sebagaimana ketika kondisi seseorang miskin pada saat pen-syariatan zakat, maka dia tidak diwajibkan untuk mengeluarkan zakat, walaupun setelah itu kondisinya menjadi serba cukup.

Jadi jika keadaan orang tuanya dalam kondisi tidak mampu saat pen-syariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur sebab ia tidak mempunyai kemampuan. Sedangkan Apabila orang tuanya mampu saat ia lahir, akan tetapi ia menunda untuk aqiqah sampai anak tumbuh dewasa, maka ketika itu anaknya tetap harus diaqiqahi meskipun telah dewasa.

Baca juga : Cek 8 Hal ini Sebelum Tanda Tangan Kontrak Kerja dengan Perusahaan

Waktu utama aqiqah yaitu hari ketujuh kelahiran, hari keempat belas kelahiran, hari keduapuluh satu kelahiran, dan setelah itu terserah dengan tanpa melihat kelipatan tujuh hari. Aqiqah untuk anak laki-laki yaitu dua ekor kambing. Tapi anak laki-laki juga boleh dengan satu ekor kambing. Untuk aqiqah anak perempuan yaitu satu ekor kambing.

Aqiqah pada dasarnya menjadi beban seorang ayah selaku pemberi nafkah. Aqiqah dilaksanakan menggunakan harta seorang ayah, dan tidak dari harta seorang anak. Orang lain tidak boleh menunaikan aqiqah selain dengan izin dari ayah. Imam Asy Syafi’i mempunyai pendapat aqiqah masih dianjurkan walaupun diakhirkan. Akan tetapi disarankan untuk tidak diakhirkan sampai usia baligh. Apabila aqiqah diakhirkan sampai dengan usia baligh, oleh sebab itu maka kewajiban dari orang tua menjadi gugur, termasuk apabila anak tersebut sudah meninggal dunia.

Namun untuk anak yang masih hidup mereka memiliki pilihan, bisa untuk mengaqiqahi pada dirinya sendiri maupun tidak di luar daripada waktu yang diakhirkan sesudah baligh.

 

Baca berita menarik lainnya di orej.net